Utang Online Sasar Kelas Mikro yang Belum Tersentuh Perusahaan Keuangan


banner 160x600
Women face

JAKARTA (WNC) - Sering dengan penetrasi internet yang kian pesat, industri fintech pun semakin berkembang di Indonesia. Banyaknya perusahaan aplikasi fintech yang muncul menunjukkan bahwa industri ini memiliki potensi.

Salah satu perusahaan fintech yang belakangan ini ramai di perbincangkan, RupiahPlus menjelaskan mengapa bisnisnya bisa berkembang.

Baca Juga: Ribuan Masyarakat Hadiri Pembukaan MTQ XVIII Kabupaten Siak di Perawang

Direktur RupiahPlus Bimo Adi Prabowo menjelaskan bisnis semacam RupiahPlus bisa berkembang lantaran menggarap pasar yang selama ini belum disentuh perusahaan-perusahaan keuangan, yakni kelas mikro.

"Perusahaan startup itu penuh inovasi. Kami hadir bukan mengancam bisnis perusahaan keuangan yang ada. Apakah bank bisa kasih pendaanan ke masyarakat bawah? kan tidak. Fintech hadir untuk itu, bukan menandingi. Tujuannya memberikan layanan yang tidak bisa dikasih orang lain dan kasih pelayanan lebih baik," tuturnya kepada detikFinance, di Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Menurut catatannya 2/3 masyarakat Indonesia belum tersentuh perbankan. Sementara 90% di antaranya belum pernah memiliki pengalaman untuk mengajukan kredit.

Oleh karena itu perusahaan fintech kebanyakan menawarkan pinjaman dengan jumlah yang sangat kecil. RupiahPlus misalnya, hanya memberikan pinjaman dalam 2 pilihan nominal yakni Rp 800 ribu atau Rp 1,5 juta.

RupiahPlus membatasi pembayaran 14 hari sejak pencairan dana. Bunga yang diterapkan beragam mulai dari 0,1% hingga 1% per hari.

"Bunganya tergantung dari verifikasi dan repeat peminjaman. Jika dia lengkap syaratnya dan sudah reapet bunganya bisa lebih kecil," terangnya

Selain fintech juga menawarkan kemudahan dan kecepatan dalam pemberian pinjaman. RupiahPlus mengklaim bisa memberikan pinjaman hanya dalam waktu 30 menit, mulai dari pendaftaran, verifikasi hingga pengiriman dana pinjaman.

RupiahPlus juga tidak menyaratkan agunan. Perusahaan fintech hanya mengandalkan verifikasi berlapis.

Selain mengisi data pribadi, foto KTP dan kartu identitas pekerja, RupiahPlus meminta nasabahnya memasukan nomor emergency dari kerabat yang bisa dihubungi. Selain itu diproses terakhir aplikasinya bisa memverifikasi wajah untuk mencocokan dengan foto dan KTP yang dicantumkan.

Bimo menambahkan, kebanyakan dari tujuan peminjaman yang dilakukan nasabahnya untuk keperluan darurat.

Menurut datanya, 18% nasabahnya meminjam untuk keperluan penambahan modal bisnis, 16% untuk kebutuhan dasar, 14% untuk pendidikan, 8% untuk kesehatan dan 43% keperluan lainnya seperti renovasi rumah hingga memperbaiki kendaraan.

"Misalnya dia sakit, tidak punya asuransi tapi harus bayar tunai. Untuk kendaraan kebanyakan driver ojek online. Dia butuh dana untuk memperbaiki motornya. Kalau motornya mati bagaimana bisa dia bekerja," tambahnya.

RupiahPlus sendiri baru beroperasi pada April 2017 dan mendapatkan izin dari OJK pada Februari 2018. Namun perkembangan bisnisnya cukup kencang. Tercatat sudah menyalurkan pinjaman ke 350 ribu orang. (wan)

 

Sumber: detikfinance.com