Ratusan Warga Gerebek Kantor OPSI, Diduga Markas LGBT

No comment 68 views

banner 160x600
Women face

PEKANBARU (WNC) - Ratusan warga mendatangi sebuah rumah di Jalan Uka, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Tampan Pekanbaru yang diduga sebagai perkumpulan komunitas Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Pada rumah tersebut terpampang merek Kantor Sekretariat Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) Riau.

Kedatangan warga, Selasa (15/1/2019) ini setelah munculnya kecurigaan, kantor organisasi sosial yang ada di wilayah mereka hanya dijadikan modus untuk berhimpunnya para komunitas LGBT yang mendapat tantangan masyarakat, karena dinilai melanggar norma etika dan agama.

Baca Juga: Pertina Kota Payakumbuh, Utus Tiga Atlet Tinju Ikuti Bupati Sijunjung Cup II 2019

Saat bersamaan juga berdatangan anggota Front Pembela Islam (FPI) Pekanbaru, bhabinsa, bhabinkamtibmas dan Polsek Tampan di lokasi tersebut. Warga yang tampak kesal meminta kepada pengurus untuk menanggalkan plang maupun spanduk Sekretariat OPSI-Riau yang terpasang di depan kantor, yang didirikan di rumah bulatan itu.

Supriyadi selaku Ketua RT 02 RW 03 mengatakan, sebelum mendirikan organisasi ini, pemilik rumah yaitu Ruli Ramadhani yang sekaligus Ketua OPSI Riau ini, sempat meminta izin kepada dirinya agar rumah tersebut dapat dijadikan kantor sekretariat. "Berawal dari pemilik rumah datang ke saya, meminta izin mengadakan pembentukan organisasi sejenis pembinaan," katanya kepada wartawan.

Pembinaan yang dimaksud Ruli, saat itu adalah melakukan sosialisasi bagi LGBT. "Jadi, yang punya organisasi mantan dari situ (LGBT). Jadi dia rangkul kawan-kawannya. (Organisasi) ini baru 2017. Kegiatannya juga sempat vakum dan terus dipantau oleh warga," sebutnya.

Selama organisasi tersebut berdiri, Supriyadi mengaku tidak pernah mendapatkan laporan aneh dari warga. Selain itu, dirinya maupun tetangga sekitar rumah tersebut, selalu memantau kegiatan di sana. "Selama ini sudah dipantau warga sekitar. Selain itu juga gak ada mereka buat acara sampai subuh," ujarnya.

Sementara itu, 2 anggota FPI yaitu Taufik dan Ramadhani yang ikut turun ke lokasi menyebutkan, pihaknya turun ke lokasi setelah mendapat kabar dari warga bahwa lokasi ini dijadikan basecamp LGBT. "Intinya ini terindikasi LGBT," sebut Ramadhani.

Saat polisi melakukan pengecekan ke dalam rumah, anggota FPI ini juga ikut. Di sana, ditemukan beberapa kotak kondom, brosur dan foto-foto pengurus organisasi yang mengarah ke LGBT. "Apapun alasan dan bentuk kemasannya, yang namanya LGBT haram. Kalau penyuluhan serahkan kepada pemerintah untuk tangani itu semua," tegasnya.

Didatangi Dewan

Menanggapi kondisi yang terjadi, Anggota DPRD Kota Pekanbaru daerah pemilihan Kecamatan Tampan Mulyadi Anwar bergerak cepat menuju lokasi di Jalan UKA, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru.

"Saat saya datang bersama seorang warga, pintu pagar terkunci. Kita ingin konfirmasi, kita diskusi dan izin masuk ke rumah untuk melakukan pengecekan," ungkap Mulyadi, Selasa (15/1/2018).

Di dalam rumah itu, Mulyadi bersama warga yang bernama Haidi menemukan seorang pria bernama Adi. Dia mengaku sebagai pekerja seks melayani laki-laki dan perempuan. Karena menemukan hal yang memang selama ini diresahkan warga, Mulyadi kemudian berkoordinasi dengan Ketua RW setempat.

"Saya telepon Ketua RW, ketua RT dan lurah kita tak ada nomornya. Akhirnya ramai, datang Babinsa juga, ada ibu-ibu dan warga, FPI juga datang ke lokasi," terang Mulyadi.

Rumah itu merupakan milik orangtua Ruli. Ruli adalah Koordinator OPSI (Organisasi Perubahan Sosial Indonesia) untuk wilayah Riau. Saat Mulyadi dan warga di lokasi, Ruli sedang tidak di rumah itu. Belakangan Ruli sampai di lokasi. Untuk menghindari amukan warga, kedua orang tersebut diamankan ke Polsek Tampan Kota Pekanbaru.

"Karena mereka (Adi dan Ruli) bersikeras kalau apa yang mereka lakukan itu benar, warga menjadi geram. Karena bukan berarti mereka pakai pengaman (dalam hubungan seks sejenis) sehingga terhindar HIV AIDS, bukan berarti kegiatan mereka ini bisa dibenarkan aturan negara maupun aturan agama," tegas Mulyadi.

Di dalam rumah tersebut, Mulyadi juga menemukan alat kontrasepsi dan foto laki-laki berpakaian wanita. Warga mengaku bahwa di rumah itu ketika malam hari juga ada karokean dan sejak lama meresahkan, namun warga belum tahu cara melaporkannya. Dengan aksi cepat Anggota DPRD Kota Pekanbaru Mulyadi ini, warga menjadi puas, tempat tersebut sudah ditertibkan.

"Tadi plang sudah diturunkan oleh mereka (Anggota OPSI), kita minta agar pemerintah menindaklanjuti kondisi ini, karena kata mereka ada izin di Kesbangpol. Saya rasa itu hanya izin Penanggulangan HIV AIDS saja, bukan izin organisasi LGBT, tapi ini perlu kita kroscek lebih dalam lagi," terang Mulyadi.

Sebab, lanjut Mulyadi, setelah ini terungkap, banyak masyarakat lainnya yang menyampaikan lagi, bahwa di lokasi mereka juga ada kegiatan yang sama oleh para LGBT. "Seperti gunung es, yang tampak satu ternyata banyak, ini yang harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah," pinta Mulyadi.

Mulyadi juga meminta agar pemerintah melakukan pembinaan terhadap mereka yang sudah salah jalan tersebut sehingga terjebak ke dalam organisasi LGBT. "Bagaimana pun mereka juga manusia, bina mereka, sehingga bisa kembali diterima di tengah masyarakat. Secara normal memang kegiatan mereka bagus dan positif, melakukan penyuluhan bahaya HIV AIDS," ungkap Mulyadi. (wan)