5 Kapolda dan 5 Direktur Ditreskrimum Polda Riau Berganti,

Pengusutan Kasus Laporan Edy Suryanto Belum Tuntas

No comment 289 views

banner 160x600
Women face

1542605613-Wartanesia-IMG 20181119 122416Pekanbaru. www.wartanesia.com

Meskipun sudah 5 kali berganti Kapolda Riau dan 5 kali pula berganti Direktur di Ditreskrimum Polda Riau, penanganan kasus atas laporan dugaan pengrusakan 14.000  batang pohon kelapa sawit milik Edy Suryanto yang diduga telah dilakukan oleh Meryani, baru sebatas penetapan tersangka. Artinya penanganannya terkesan lamban.

Baca Juga: Tingkatkan Mutu Pendidikan, Disdik Siak MoU dengan PT RAPP

Pantauan www.wartanesia.com, Hingga saat ini perkembangannya baru atas pengusutan kasus laporan Edy Suryanto ini, masih sebatas penetapan tersangka. Padahal sudah berjalan hampir empat tahun. Dengan rincian, hampir dua tahun sejak dilaporkan perkembangannya  ada penetapan tersangka. Sementara hampir dua tahun setelah penetapan tersangka penyidikannya, seolah-olah jalan ditempat.

Informasi yang dirangkum www.wartanesia.com, Meryani menyandang status tersangka oleh Polda Riau karena diduga telah melakukan pengrusakan kelapa sawit sebanyak 14.000 batang yang tertanam dilahan seluas 114 hektar dan sudah berumur 5 s/d 6 tahun di RT 04 /RW 014 Kelurahan Sail Kec Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, milik Edy Suryanto, yang dilaporkan Edy Suryanto sejak tanggal 29 Juni 2015 dengan bukti Laporan Polisi No: LP/277/VI/2015/SPKT POLDA RIAU. Sejak dilaporkan hingga adanya penetapan tersangka karena diduga telah melakukan tindak pidana Pasal 170 jo Pasal 406 KUHP sudah memakan waktu hampir dua tahun.

Menurut Informasi, Tersangka Meryani sudah beberapa kali dipanggil oleh penyidik untuk menjalani pemeriksaan dengan status sebagai tersangka. Namun, Mery selalu  ingkar, semuanya dengan alasan sakit.

Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Pihak Polda Riau, tentang perkembangan penyidikan kasus pengrusakan ini, Kapolda Riau Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo, melalui Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto kepada www.wartanesia.com mengakui  bahwa memang sudah beberapa kali tersangka Mery dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka. Bahkan surat panggilan ketiga kepada Mery selaku tersangka baru baru ini memang  sudah dilayangkan oleh penyidik. Dan tersangka Mery datang. Dan sudah dilakukan pemeriksaan, namun tidak dilakukan penahanan berhubung karena kondisi Mery sedang sakit, pasca menjalani operasi. Dan hal itu dibuktikan dengan adanya surat keterangan sakit dari dokter.

“Saudari Me sudah dilakukan pemeriksaan dan tidak dilakukan penahanan karena kondisi sakit (surat keterangan sakit dari dokter). Proses sedang berjalan. Yang bersangkutan masih menjalani pengobatan pasca operasi”, ujar Sunarto.

Akan tetapi ketika www.wartanesia.com menanyakan, seputar penerbitan surat panggilan paksa (Surat Panggilan Ketiga, red). Karena biasanya jika sudah sampai terbit Surat panggilan ketiga, yang dipanggil itu dikategorikan melawan hukum. Sebab, biasanya jika itu sampai terjadi,

Tersangkanya langsung ditahan oleh penyidik. Dan mengapa hal  itu tidak dilakukan pihak penyidik Polda Riau?. Sunarto menjawabnya dengan diplomatis dan menyebutkan masih perlu informasi dari penyidik. Dan berharap agar berpikiran positif saja  atas langkah penyidikan yang sedang dilaksanakan penyidik.

“Perlu informasi dari penyidik, Ok. Positif thinking aja sebelum ada penjelasan penyidik”, ujar Sunarto. ( Patar Simanjuntak )