Tulisan dari Generasi Baru Indonesia (GenBI) Riau

Mengenal Lebih Intim Kegunaan Gerbang Pembayaran Nasional (National Payment Gateway) 



banner 160x600
Women face

Pembangunan dalam sebuah negara tidak hanya dilihat dari kinerja pemerintahnya saja, akan tetapi dilihat dari masyarakatnya pula yang mau berkembang, dan terus belajar. Indonesia yang jumlah penduduknya berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2017 telah mencpai angka 257.912.349 jiwa, selalu berusaha hengkang dari posisi negara berkembang dan hijrah ke negara maju. Akan tetapi tak sedikit bongkahan batu yang menjadi sandungan bagi sebuah negara yang berada pada fase evolusi dari negara berkembang menjadi negara maju. Mulai dari konflik di tatanan masyarakat, elit pemerintah dan stakeholder lainnya menjadi bongkahan batu yang selalu membentur.

Haluan akhir tujuan sebuah pembangunan negara bukan lain hanyalah mewujudkan negara yang berkesejahteraan (Welfare state), dan konkritisasinya yang dapat kita liihat secara kasat mata adalah bagaiamana iklim perekonomian rakyatnya. 
Globalisasi merupakan dunia baru (new world) yang muncul disebabkan oleh kemajuan kemampuan berfikir manusia dengan mengandalkan basis teknologi. Hal inilah yang menjadi pemantik bagi Bank Indonesia harus mengikuti perkembangan zaman yang dimana lembaga tunggal ini telah berusaha meng-upgrade kegiatan ekonomi nasional melalui pemasifan sistem pembayaran berbasis teknologi yang kerap kita kenal yaitu Gerakan Pembayaran Non-Tunai Nasional (GNNT-N) yang notabenenya memanfaatkan kemajuan teknologi.

Selain Gerakan Pembayaran Non-Tunai Nasional, pun Bank Indonesia yang merupakan muara dari dunia perbankan telah mengeluarkan diskresi inovatif yakni Gerbang Pembayaran Nasional (National Payment Gateway) atau disingkat dengan GPN. Diskresi ini dikeluarkan dilatarbelakangi untuk mewujudkan infrastruktur pembayaran yang handal dan aman serta memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk menggunakan sistem layanan transaksi elektronik yang berkualitas, aman, dan efesien.

Yang menjadi pergumulan krusial dan klasik kerap muncul dari alam fikir masyrakat setelah  (Bank Indonesia) mengeluarkan sebuah diskresi yang sifatnya baru dan inovatif basis teknologi adalah APA KEUNTUNGANNYA BAGI RAKYAT INDONESIA?. Pertanyaan ini muncul karena banyak masyarakat yang masih belum mengenal lebih komprehensif dan intim terkait Gerbang Pembayaran Nasional itu sendiri.

Pertanyaan ini menjadi hasrat bagi penulis untuk menjawabnya kepada masyarakat dengan menyajikan makna dari Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) secara komprehensif guna memantik masyarakat mau mengenal lebih intim dewasa ini. Namun, banyak yang belum mengenal GPN itu sendiri secara defenisi umum. Adapun Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) merupakan suatu sistem yang mengintegrasikan berbagai kanal pembayaran yang memfasilitasi transaksi elektronik. Dengan interkoneksi dan interoperabilitas, GPN memungkinkan transaksi elektronik dapat digunakan seluruh masyarakat Indonesia.  

Lahirnya Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) akan menjadikan sistem pembayaran di Indonesia menjadi saling terkoneksi, dimana kondisi ini merupakan sistem-sistem/teknis/ infrastruktur dapat saling bicara dan memproses. Banyaknya plattfrom, fragmanted dan industri yang cenderung ekslusif merupakan penyebab tingginya biaya investasi dan sharing investasi yang rendah. Jika kita melihat kondisi fee/biaya transaksi pembayaran (MDR) di indonesia maka yang terlihat hanyalah alasan untuk mengurungkan niat kita melakukan transaksi. Mengapa demikian? Karena faktanya, fee/biaya transaksi di Indonesia saat ini mencapai angka kisaran 1,6% - 2,2%. 

Sementara, jika kita mencoba melakukan komparasi dengan negara tetanga, maka terdapat perbedaan yang signifikan yakni fee/biaya transaksi di negara tetangga hanyalah mencapai angka 0,2% - 1%. Ketika jumlah fee/biaya transasksi tinggi maka akan berimplikasi terhadap kondusifitas pelaksanaan Bansos Non-Tunai, keuangan Infklusif, dan Program-program yang menggunakan basis teknologi lainnya. Pemanfaatan interkoneksi dapat menjadi angin segar bagi Indonesia untuk merekonstruksi koneksitas antar sistem yang eksis di Indonesia.

Disamping interkoneksi, interoperabilitas turut akan terwujudkan ketika Gerbang Pembayaran Nasional telah optimal. Pernahkah kita sadar bahwa banyaknya jumlah kuantitas kanal pembayaran atau yang kerap kita kenal EDC (Electronic Capture Data) dan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Indonesia merupakan salah satu penyia-nyiaan devisa yang seharusnya tidak diperlukan karena tanpa kita sadari untuk mendatangkan barang tersebut haruslah melakukan importing barang. Yang menjadi pemantik permasalahannya adalah dengan besarnya jumlah kuantitas kanal pembayaran tersebut namun tidak dapat saling memproses, maka yang tercipta hanyalah inefisien bagi Indonesia, serta ini pada hakikinya merupakan suatu kondisi yang berimplikasi pada kurangnya interoperable. 

Menggunakan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) menjadi salah satu fasilitas yang dihadirkan oleh Bank Indonesia untuk melakukan integarasi guna meminimalisir inefesiensi budgeting terkait kanal pembayaran yang ada di Indonesia. Sebagai contoh sederhana, ketika kondisi sistem transaksi pembayaran belum menggunakan GPN maka ketika nasabah atau masyarakat memiliki instrumen pembayaran menggunakan Bank Mandiri, dan suatu waktu masyarakat tersebut ingin melakukan jual-beli di suatu merchant atau toko yang dapat melakukan transaksi pembayaran non-tunai akan tetapi toko tersebut hanya memiliki kanal pembayaran EDC Bank BRI, maka yang terjadi adalah masyarakat tesebut tidak dapat melakukan transaksi dikarenakan belum terinteroperabilitas antar lembaga. 

Akan tetapi, ketika GPN telah diterapkan, maka ketika masyarakat menggunakan instrument bank tertentu, suatu waktu ketika masyarakat ingin melakukan transaksi jual-beli di toko manapun akan dapat diproses menggunakan kanal pembayara EDC bank manapun. Praktis dan efesiensi akan dirasakan masyarakat ketika GPN ini terealisasi dengan baik di Indonesia.

Masyarakat Indonesia telah sering menggunakan kartu debit untuk melakukan transaksi pembayaran, bahwa per Januari 2017 jumlah pengguna instrumen ATM Debit mencapai angkat 136,1 Juta. Akan tetapi, yang menjadi perhatian kita adalah saat ini, pemrosesan transaksi domestik terhadap kartu debit masih di luar indonesia, maka hal tersebut berimplikasi tingkat keamanan terkait data nasabah yang berada di luar neger menjadi perhatian. Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) merupakan jalur perekap-an data secara nasional dengan melakukan peningkatan keamanan nasabah dan seluruh transaksi domestik secara linier akan terekap, pun potensi terjadi money laundring pun akan berkurang.

Makna Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) ini pun akan dirasakan oleh pihak Perbankan konvesional jika telah mendukung terealisasinya diskresi ini sendiri. Ketika, jumlah kanal pembayaran seperti EDC (Electronic Capture Data) dan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang dimiliki satu bank, maka biaya operasional yang dikeluarkan oleh bank bersangkutan akan tereduksi dan memberikan keuntungan. Sehingga biaya yang dahulu digunakan untuk operasional maka dapat dialokasikan ke pembiayaan yang lain. 

Pengeluaran diskresi terkait Gerbang Pembayaran Nasional ini merupakan angin segar yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia untuk menjadikan Negara Indonesia memiliki Bank Sentral yang kredibel dan terbaik di Regional, melalui Arsitektur Fungsi strategis yang dimilikinya. Secara linier, maka masyarakat indonesia pun akan terajak serta terdukasi menggunakan sistem pembayaran nasional yang berbasis teknologi mengikuti perkembangan zaman yakni Globalisasi.

Dengan terciptanya ekosistem sistem pembayaran yang kredbel, handal, praktis, efesien, dan mengikuti zaman now dengan mau melakukan integrasi dan pemanfaatan teknologi, perlahan demi perlahan negara Indonesia akan berhasil melakukan evolusi dengan cara hengkang dari negara berkembang dan hijrah ke negara maju.
Karena, negara maju adalah negara yang memliki seluruh ornamen penggerak yang dapat bersaing baik itu pemerintah, perekonomian, maupun kehidupan masyarakatnya yang mau maju dan berkembang.***

Tulisan dari: GenBI Riau