Partisipasi Pemilih Masih Rendah

Dewan akan Evaluasi Anggaran Pilkada Riau

No comment 37 views

banner 160x600
Women face

PEKANBARU (WNC) - Partisipasi atau keikutsertaan pemilih pada Pilkada di Riau 2018 masih tergolong rendah dan jauh dari target. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau mencatat partisipasi pemilih hanya mencapai 59,25 persen.

Wakil Ketua DPRD Riau, Noviwaldy Jusman atau akrab disapa Dedet mengatakan bahwa masih ditemukan masyarakat yang tidak tahu dengan pilkada Riau. Terutama masyarakat di pinggiran dan pedalaman.
"Ada juga masyarakat yang tidak tahu dengan calon gubernur," sebutnya pada Senin (9/7/2018).

Baca Juga: Jokowi-Ma'ruf Nomor Urut 1, Prabowo-Sandi 2

Dedet menyampaikan bahwa sosialisasi dalam pilkada kali ini memang tidak semeriah biasanya. Hal ini juga disebabkan adanya regulasi yang mengatur batasan alat peraga kampanye (APK) dan lokasi pemasangannya.

"Ini memang meringankan beban kampanye pasangan calon, namun efeknya pilkada tidak semeriah biasanya," ujar Politisi Partai Demokrat ini.

Namun demikian, bagi Dedet ini tidak menjadi alasan partisipasi pemilih di Riau masih rendah. Ia akan mengevaluasi anggaran tersebut guna melihat seperti apa penggunaannya oleh KPU Riau.

Dilansir cakaplah.com, sebelumnya, dari rapat Pleno Rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilihan Gubernur Riau oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) diketahui jumlah total partisipasi pemilih hanya berada pada angka 59,25 persen. Tingkat partisipasi ini sangat jauh dari target yang dicanangkan oleh KPU Riau yakni mencapai 77 persen.

Menanggapi hal tersebut, Ketua KPU Riau, Nurhamin, mengatakan meskipun jauh dibawah target akan tetapi tingkat partisipasi pemilih kali ini meningkat daripada pelaksanaan Pilgubri tahun 2013 lalu.

"Memang tak mencapai target, akan tetapi angka 59,25 persen ini lebih besar dari pemilihan gubernur sebelumnya yang hanya 54 persen," sebutnya.

Ia menjelaskan, walaupun menurun, tapi ada juga yang meningkat, seperti di Kota Pekanbaru. Pada Pilgubri sebelumnya partisipasi pemilih hanya 51 persen namun kali ini mencapai angka 62 persen.

"Hal ini tentunya butuh riset mendalam tentang hal ini, apakah faktor sosialisasi atau dinamika setiap kabupaten yang berbeda. Ini PR kita bersama untuk mempelajari ini. Kita berharap ke depannya tingkat partisipasi bisa semakin baik," tukasnya. (wan)