Bambang Pacul PDIP Siap Dibui Jika Ketua Umum Megawati Diusik


banner 160x600
Women face

SEMARANG (WNC) - Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul mengaku siap masuk bui jika Ketua Umum Megawati Soekarnoputri diusik. Ia membantah mengkultuskan Megawati. Menurut Bambang sosok Megawati dianggap sebagai ibu.

"Beliau lebih sekedar Ketum, beliau ibu kami. Ibu itu, kasarnya, se-preman-premannya kader PDIP kalau sudah berada bersama ibu, dia akan takluk. Sosok Bu Mega yang selalu memberi contoh baik pada kami, tidak bisa dihindarkan kalau Bu Mega lalu diusik," ujar Bambang di Panti Marhaen Kantor DPD PDIP Jateng, Sabtu 2 Juni petang.

Baca Juga: KM Sinar Bangun Tenggelam di Danau Toba

Dilansir tempo.co, Bambang menyatakan hal ini terkait kasus penggerudukan kantor Harian Radar Bogor oleh kader PDIP. Massa yang menggeruduk kantor Radar Bogor sempat bertindak anarkis dan memukul seorang staf di sana. Peristiwa ini dikecam banyak pihak. Aliansi Jurnalis Independen mengutuk keras kekerasan yang dilakukan di kantor Radar Bogor itu.

Pernyataan Bambang Pacul pasca-kejadian itu juga dianggap kontroversial. Bambang saat itu menyebut jika kejadian serupa terjadi di Jawa Tengah maka kantor koran itu bisa rata dengan tanah.

Bambang menjelaskan para kader terusik saat sang Ibu Megawati diberitakan seperti yang ditulis Radar Bogor. Dalam pemberitaannya, Radar Bogor menulis judul Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta. Tulisan itu terkait gaji Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri.

Bambang Pacul mengatakan posisi Megawati di BPIP saat itu belum menerima gaji, dan dianggap ongkang-ongkang kaki tanpa bekerja.

Ia mengaku sudah memberikan instruksi dan saran kepada petinggi PDIP di wilayah Bogor untuk mengendalikan massa. Namun, kericuhan tak terhindarkan saat kader yang menganggap Megawati sebagai orang tua harus diberitakan miring.

Bambang tak ambil pusing jika perilaku penggerudukan Kantor Harian Radar Bogor oleh kader PDIP jauh dari seruan idealisme partainya. Ia bahkan melontarkan pernyataan kemungkinan kantor pers lainnya di Jateng bisa rata dengan tanah, jika mengusik Megawati. Hal itu bertolak belakang dengan seruan PDIP yang menyatakan dirinya sebagai partai yang menjunjung tinggi Pancasila.

"Kalau mau menjelekkan saya, bahkan mengganti foto saya dengan kunyuk (monyet) silakan. Tidak akan ada yang marah. Namun kalau Bu Mega, sosok ibu, orang tua, dan yang membimbing kita diusik, kita jelas marah. Terlebih Jateng 'kandang banteng', banyak kader gaek yang tidak terlihat justru akan bergerak. Saya tidak bisa mencegah meski saya bilang jangan anarki," ucap Bambang.

Alasan itulah yang membuat Bambang merasa bersyukur kejadian pemberitaan soal Megawati tidak terjadi di Jawa Tengah. Selain masih banyak kader gaek yang militan, ia juga memastikan para banteng di Jateng sungutnya akan memanjang jika induk mereka dikoyak.

"Hal itu terjadi jika hanya menyangkut Ketum, ibu kami. Saya kalau diperintah menghentikan, tidak akan bisa. Saya siap dipecat, bahkan masuk penjara kalau memang harus terjadi," kata Wakil Ketua Komisi I DPR itu.

Bambang menyayangkan masyarakat beropini dirinya jauh dari nilai yang selama ini ditanam partainya hanya karena satu pernyataannya, soal kantor pers yang bisa rata dengan tanah jika mengusik Megawati. Ia mengakui pernyataannya tersebut menimbulkan kontroversi, mengarah pada hal provokatif, dan cenderung pada ujaran bersifat premanisme.

"Secara hukum jelas, ada delik pers dan sebagainya, kami juga tahu itu. Ya coba saja, ibumu dihina, direndahkan, kamu marah gak. Kalau gak marah, kamu malah bisa jadi anak durhaka," ujar Bambang.

Bambang menegaskan, pihaknya sudah tidak mempermasalahkan isi pemberitaan yang dianggap tidak berimbang tersebut. Jika pihak Radar Bogor meminta maaf dan tidak mengulang, PDIP akan langsung memaafkan. (wan)